Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Jember, Sosok dan Kiprahnya Inspiratif

Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Jember, Sosok dan Kiprahnya Inspiratif
Sutipah (Ketua KPI Cabang Jember) sedang merawat bunga

JEMBER - Tidak banyak yang tahu sosok Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Jember. Dia adalah seorang perempuan sederhana. Rumahnya di tengah perkampungan yang padat penduduk di kota. Gang depan rumahnya sempit hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Tidak ada mobil hanya dua sepeda motor terparkir di teras. Saat Wartawan Indonesiasatu berkunjung ia sedang merawat tanaman bunga kesayangannya. Sejak awal Ia tidak pernah berpikir akan menjadi ketua organisasi perempuan dan menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya. Ia bahkan tidak pernah bercita-cita bertemu orang-orang penting di tingkat kabupaten bahkan hingga Jakarta. Koalisi Perempuan Indonesia adalah organisasi perempuan yang bergerak memperjuangkan hak-hak perempuan.

Ketua KPI Cabang Jember terlahir dari orang tua yang susah penghidupannya. Ia lahir di Jember 47 tahun silam. Ketika masih anak-anak saat di sekolah dasar ia harus kehilangan ibunya. Sejak itu kehidupannya semakin berat.

Sutipah nama yang mudah diingat adalah nama Ketua KPI Cabang Jember. Ia menceritakan kisah hidupnya. Perempuan dengan 4 anak itu mencoba mengingat kembali masa tersulit yang dialami. "Ketika saya SD kelas dua ibu saya meninggal, " kata perempuan yang memiliki tahi lalat di pipi kanannya itu. 

Ketika itu Sutipah memiliki empat kakak laki-laki dan seorang adik bayi. Sepeninggal ibunya, kakak-kakaknya berupaya mencari kehidupan sendiri-sendiri. Sedangkan bapaknya menikah lagi dengan perempuan lain. Ia dan adiknya tidak terurus dengan baik.

Melihat situasi rumah tangga keluarga tidak harmonis lagi, Sutipah kecil memutuskan ikut pada orang. "Saya disekolahkan oleh beliau, lalu keluarga angkat saya pindah ke Semarang, " ucapnya, Senin, (8/2/2021) di rumahnya . 

Waktu ikut pindah ke Ibukota Jawa Tengah itu Sutipah kecil tidak bisa melanjutkan sekolah sebab tidak memenuhi persyaratan administrasi. Ia hanya menikmati bangku sekolah menengah pertama, itupun tidak sampai lulus. Di sana diikutkan kursus menjahit oleh orang tua angkatnya. 

Setelah beberapa tahun kemudian orang tua angkatnya pindah lagi ke Kediri. Di sana Sutipah kecil kurang dihargai oleh ayah dan ibu dari orang tua angkatnya. "Gimana ya, rasanya sulit gitu lho, seperti saat Idul Fitri semua berkumpul dengan keluarga masing-masing saya menepi sendirian, " ucap Sutipah dengan mata berkaca-kaca mengigat kejadian itu. 

Kemudian ia minta diri hendak pulang ke Jember. Sesampainya di Jember Sutipah yang menginjak masa remaja bekerja di toko. Suatu saat ada seorang kenalan ingin mengenalkan pria padanya. Pria itu sudah bekerja di Perusahaan Kereta Api dan berkeinginan mencari jodoh. Sutipah mau berkenalan dengan pria itu. Jodoh memang tidak akan lari kemana, tidak berselang lama hanya dua minggu Sutipah dipersunting oleh Edi Susanto, pegawai KAI yang umurnya 2 kali lipat darinya. Kala itu Sutipah berumur 16 tahun dan Edi Susanto umur 35 tahun. 

Beruntung sekali suaminya tipe lelaki yang bertanggung jawab sehingga kehidupan Sutipah bisa lebih baik. "Waktu itu saya hanya berpikir bagaimana keluar dari situasi sulit ini, dan hidup lebih layak" kata Sutipah pelan. 

Pengalaman organisasi sudah muncul dari usia dini. Sejak ibunya meninggal Sutipah kecil sering mewakili orang tua angkatnya ke pertemuan wanita baik di arisan, pengajian bahkan di Dharma Wanita. Dari kegiatan tersebut ia senang kumpul-kumpul dengan orang lain sehingga wawasannya semakin luas. Punya banyak teman baginya menyenangkan, bisa berbagi cerita dan berkeluh kesah. 

Sang suami tidak pernah melarang Sutipah aktif berorganisasi mulai dari posyandu, muslimat, arisan, Dharma Wanita KAI dan sebagainya. Sutipah belajar berorganisasi secara otodidak. Dengan kegiatan yang padat ia banyak dikenal terutama di lingkungan Kelurahan Kepatihan dan KAI Daop IX Jember.

Nyonya Edi Susanto itu mulai kenal dengan KPI sejak tahun 2012. Ketika itu ia diajak oleh Afianda, untuk ikut bergabung. Tahun 2008 KPI Cabang Jember sudah ada tetapi karena ada perubahan AD/ART maka di Jember dinonaktifkan. Persyaratan terbaru minimal memiliki 3 balai perempuan. Setiap balai minimal memiliki 30 anggota. Selain itu juga minimal ada 3 kelompok kepentingan - di setiap balai - dari 18 kelompok kepentingan di KPI.

Sejak bertemu dengan Afianda, Sutipah semakin rajin berorganisasi. Semangat ingin membantu kaum perempuan yang tertindas mendasarinya bergerak maju. Ia tahu dan bisa merasakan tekanan dan penderitaan. "Alhamdulillah di sana saya mendapat berbagai pelatihan yang tidak saya dapatkan di organisasi manapun, " katanya bangga. 

Tahun 2014 terbentuk satu balai perempuan di Kepatihan. Kemudian tiga tahun berikutnya lahir 2 balai sekaligus di Kencong dan Mojosari. Di Kencong berhasil memediasi Pemerintah desa untuk dibuatkan prasarana bagi kaum difabel di balai desa. Di Mojosari berhasil menarik perhatian pemerintah agar lebih memperhatikan kaum perempuan sebab adanya lokalisasi "Besini". Hampir satu tahun penuh ia setiap hari bolak-balik ke Mojosari menangani anak-anak remaja putri yang menjadi korban kenakalan remaja. 

Pada akhir tahun 2018 diadakan Konferensi Cabang di Hotel Royal. Dari 125-an hak suara anggota mewakili 3 balai, Sutipah menang mutlak dengan perolehan suara 106. Selain anggota di tiga balai dihadiri juga anggota dari daerah lain yang belum terbentuk balai. Jumlah kehadiran pada waktu konfercab berkisar 500 orang dan disaksikan langsung oleh sekretaris wilayah Jawa Timur. Saat ini anggota aktif KPI Cabang Jember berkisar 800 orang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Jember. 

Seperti diketahui Koalisi Perempuan Indonesia adalah organisasi perempuan yang berjuang untuk mewujudkan keadilan dan demokrasi dengan berpegang teguh kepada nilai-nilai dan prinsip kejujuran, keterbukaan, persamaan, kesetaraan, persaudarian (persaudaraan), kebebasan, kerakyatan, kemandirian, keberagaman, non-sektarian, non-partisan, nir kekerasan, berwawasan lingkungan dan solidaritas pada rakyat kecil dan yang tertindas.

Dan Koalisi Perempuan Indonesia menolak segala bentuk diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, kelas sosial, agama, kepercayaan, ras, etnis, orientasi seksual, warna kulit, bentuk tubuh, kemampuan fisik yang berbeda, usia, status perkawinan, pekerjaan, pandangan politik, perbedaan - perbedaan lainnya, serta merawat lingkungan hidup. (Sigit)

JATIM JEMBER
Sigit Priyono Azeta

Sigit Priyono Azeta

Previous Article

Operasi Yustisi Pendisiplinan Masyarakat...

Next Article

Dandim 0824/Jember Pantau Langsung Aktivitas...

Related Posts

Peringkat

Profle

Syafruddin Adi

Achmad Sarjono

Achmad Sarjono verified

Postingan Bulan ini: 115

Postingan Tahun ini: 554

Registered: Sep 25, 2020

Herman Djide

Herman Djide verified

Postingan Bulan ini: 51

Postingan Tahun ini: 1004

Registered: Sep 22, 2020

Suhardi

Suhardi

Postingan Bulan ini: 47

Postingan Tahun ini: 536

Registered: Sep 22, 2020

H. Syamsul Hadi, S.Pd

H. Syamsul Hadi, S.Pd

Postingan Bulan ini: 39

Postingan Tahun ini: 183

Registered: Jan 24, 2021

Profle

Azhar Harahap

Akhirnya Terjawab Sudah, MK Terima Gugatan  Dan Mengadili Perkara PSU Pilkada 2020
Sat Narkoba Polres Bantaeng Amankan 2 Warga dan 1 Oknum Polisi, Tes Urine Positif
Aneh, Oknum Bendahara DPRD Jeneponto Bawa Kabur Uang Negara Rp500 Juta, Sekwan: Itu Alami Tak Perlu Dipersoalkan
Status Prodi Teknik Sipil dan Elektro di UKI Toraja, Legalitas Ijazahnya Dijamin

Follow Us

Recommended Posts

Cegah Penyebaran Covid 19, Muspika Kaliwates, Sambut Kepulangan PMI di Lokasi Isolasi Hotel Kebonagung Jember
Operasi Yustisi Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan Covid 19 Kabupaten Jember, Tindak Tegas Pelanggar
Bupati Tetapkan Edamame Jadi Bagian Ikon Kabupaten Jember
Bagi Masker Dan Takjil Gratis Sambut Ramadhan Dan Diesnatalis, UKM KSR Politeknik Negeri Jember
Tony Rosyid: Anies Berpotensi Jadi Tokoh Fenomenal di 2024